Menu

Download Everything You Like Here, :: Download Manga [Komik], Movie, Ebook, Makalah, Game, Software Link Mediafire, Indowebster, Ziddu, 4shared ::

Friday, December 16, 2011

MAKALAH TAFSIR AHKAM, AYAT-AYAT TENTANG WASIAT


Tafsir Ahkam
TENTANG AYAT-AYAT WASIAT

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata kuliah : Tafsir Ahkam
Dosen pembimbing : M. Arja Imroni, Dr, H

                                                   

                                                               Disusun oleh:
                                                             Kelompok  XIII
                                            Hesti Yozevta Ardi    : 082111073
                                           Mutmainnah                : 082111089
                                           M. Saddam Naghfir    : 082111087

KONSENTRASI ILMU FALAK
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2010
TAFSIR AHKAM AYAT-AYAT WASIAT

ü  Q.S al-Baqoroh : 180-182 
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat[1] untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf[2], (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Maka Barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, Maka Sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui[3]. (akan tetapi) Barangsiapa khawatir terhadap orang yang Berwasiat itu, Berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan[4] antara mereka, Maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”( Q.S Al-Baqoroh 180-182)
ü  Q.S  al-Maidah :  106-108

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu[5], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: "(Demi Allah) Kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun Dia karib kerabat, dan tidak (pula) Kami Menyembunyikan persaksian Allah; Sesungguhnya Kami kalau demikian tentulah Termasuk orang-orang yang berdosa". Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa[6], Maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: "Sesungguhnya persaksian Kami labih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan Kami tidak melanggar batas, Sesungguhnya Kami kalau demikian tentulah Termasuk orang yang Menganiaya diri sendiri".Itu lebih dekat untuk (menjadikan Para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah[7]. dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Q.S. al-Maidah : 106-108)
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai makhluk Allah kita pasti menemui maut atau kematian. Dan hal yang selalu berhubungan dengan peristiwa kematian adalah harta peninggalan si mayat (orang yang meninggal) baik dari sisi pembagian ataupun siapa saja yang  berhak menerima. Hal ini tidak jarang menimbulkan perselisihan antara orang-orang yang ditinggalkan (ahli waris). Banyak fenomena  pembagian harta waris diwarnai dengan perbedaan pendapat. Seperti ada ahli waris yang berpendapat bahwa harta harus dibagikan kepada orang-orang sesuai permintaan si mayat sebelum meningalnya, dan ada juga yang berpendapat harus meniti hukum islam yaitu dalam hal ini faraidh (hukum waris), sehingga pembagian harta waris tersebut berujung dengan perselisihan yang memanjang.
Ditengah-tengah permasalahan ini hadir sebuah ketetapan hukum yang ini sebagai salah-satu solusi atas permasalahan diatas yaitu hukum wasiat. Yang mana wasiat ini harus dilaksanakan sebelum harta waris dibagikan kepada ahli waris dengan ketetapan maksimal 1/3 dari harta yang ditinggalkan oleh si mayat. Wasiat memperbolehkan setiap orang untuk memiliki permintaan atas harta yang ditinggalkan, dalam artian kepada siapa pemberian harta diutamakan. Akan tetapi wasiat juga tidak meniadakan bagian bagi ahli waris yang tidak menerima wasiat. Hal ini dikarenakan ketetapan harta yang boleh diwasiatkan sudah ditetapkan oleh hukum agama.
Kehadiran sistem wasiat dalam hukum Islam sangat penting artinya sebagai penangkal kericuan dalam keluarga. Karena ada di antara anggota keluarga yang tidak berhak menerima harta peninggalan dengan jalan warisan. Dengan demikian wasiat dapat diartikan sebagai hal peminimalisir atau bahkan penghapus fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarajkata khusunya para muslim. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai wasiat yang terdapat dalam al-quran serta bagaimana makna yang terkandung di dalamnya.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Makna Mufrodat
Dalam suran al-Baqoroh ayat 180-182 maupun surat al-Maidah ayat 106-108 terdapat beberapa kata yang menjadi kata kunci dalam penafsiran dan memahami kandungan ayat tentang wasiat ini, yaitu :
كُتب
Diwajibkan

tanda-tanda kematian

harta benda yang banyak

berwasiat, sama dengan Isaha’, dan at-Taushiyyah. Artinya materi yang diwasiatkan, baik  benda maupun pekerjaan[8]. Baris di depan sebagai naibul fa’il dari kutiba, dan tempat berkaitnya idza  jika ia merupakan zarfiyah dan menunjukkan hukum wajibnya jika ia syartiyah dan merupakan jawaban dari in artinya hendaklah ia berwasiat[9]

dengan adil, tidak lebih dari 1/3. Sesuatu yang tidak ditolak oleh hli waris karena jumlahnya sedikit bila dibanding dengan hartanya, atau jangan sampai terlalu banyak sehingga akan menghabiskan bagian ahli waris. Banyak/sedikitnya wasiat ini tidak bisa diperkirakan berdasarkan kebiasaan yang berlaku.

(barang siapa yang mengubahnya) mengubah wasiat, baik ia sebagai saksi atau yang menyampaikannya[10]

























                        :
الموت                 :
خيراً                  :
الوصية        :
بالمعروف             : 
فمنمبدله                :
فمن خاف                          : mengetahui
جنفاً                     : kesalahan atau dosa
آوإثماً               : disini berarti sengaja berbuat curang atau aniaya. Misalnya dengan sengaja atau mengistimewakan orang kaya[11]
فآصلح بينهم           : (lalu didamaikan diantara mereka) yakni antara yang menyampaikan dan yang diberi wasiat dengan menyeluruh menempati keadilan.
Al-Maidah : 106-108[12]
الشهده                       : Perkataan yang lahir dari pengetahuan yang diperoleh melalui persaksian mata atau akal
ضربتم فى الارض      : berpergian atau mengadakan perjalanan
تحسبونهما                 : memegang keduanya dan mencegahnya agar tidak pergi dan   lari
ارتبتم                : kalian ragu-ragu terhadap kebenaran keduanya pada apa yang mereka tetapkan
من الاثمين           : orang-orang yang bermaksiat
عثر على الشئ      : berasal dari kata العثر yaitu mengetahui sesuatu tanpa terlebih dahulu menanyakannya                 
اعثره عليه           : memberitahukan kepadanya, yang hal itu tidak dinanti-nantikannya
B.                 Makna Ijmali
Pada ayat-ayat sebelumnya telah dikemukakan masalah hukum qisas di dalam pembunuhan. Qishash ini merupakan salah satu jalan menuju kematian. Karenanya tampak berurutan bila jika sesudah ayat-ayat tersebut dibicarakan masalah wasiat bagi seseorang yang sudah di ambang kematian. Khithab ayat ini disampaikan secara umum, hendaknya seseorang mewasiatkan sebagian harta bendanya, terutama jika tanda-tanda  kematian itu sudah jelas. Dengan demikian, akhir dari amal perbuatannya adalah kebaikan.
Secara singkat makna ijmali pada surat al Baqoroh ayat 180-181 adalah
1.    Wasiat wajibah harus dilakukan oleh seseorang terhadap kerabatnya yang tidak berhak menerima pusaka karena adanya penghalang seperti wasiat untuk cucu lantaran ayahnya lebih dahulu meninggal.
2.    Kepada washi (pengurus wasiat) dan saksi supaya jangan mengubah wasiat dan kepada yang berwasiat sendiri agar tidak membuat wasiat untuk orang lain dan mengabaikan keluarga sendiri.
3.    Ayat ini berbicara mengenai saksi bagi orang yang ingin berwasiat yaitu dua orang laki-laki yang adil dari kamu (orang mukmin) sebagai saksi atas wasiatnya serta bagi orang yang berpergian sedangkan dalam dirinya sudah terdapat tanda-tanda kematian maka saksi bisa dari orang lain (selain muslim).
4.    Jika kedua orang yang diangkat menjadi saksi terhadap wasiat dan diserahkan kepadanya harta untuk disampaikan kepada para pewaris, sedangkan keduanya pun dipercayai mereka dengan idak bersumpah, maka persoalan waris tidak perlu diragukan. Tetapi jika ada keraguan, maka hendaklah kedua saksi tersebut ditahan agar tidak kemana sampai sembayang ashar kemuadian dilakukan sumpah.
5.    Jika kedua saksi yang telah bersumpah itu dengan bersumpah curang dan berhianat dengan menyembunyikan sebagian harta, maka hendaklahsumpah itu dikembalikan kepada para waris yaitu dua orang waris yang terdekat untuk disumpah.
Sedangkan dalam surat al- Maidah ayat 106-108 secara singkat menjelaskan tentang kesaksian wasiat. Pada ayat pertama (106) desebutkan
$pkšr'¯»tƒ  tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä äoy»pky­ öNä3ÏZ÷t/ #sŒÎ) uŽ|Øym ãNä.ytnr& ßNöqyJø9$# tûüÏm Ïp§Ï¹uqø9$# Èb$uZøO$# #ursŒ 5Aôtã öNä3ZÏiB
Dijelaskan bahwa kesaksian yang disyari’atkan diantara kalian dalam hal itu adalah kesaksian dua orang laki-laki di antara kalian dari orang-orang adil dan istiqomah (lurus). Kedua saksi itu dimintai kesaksiannya oleh orang yang berwasiat atas wasiatnya, sehingga kedua saksi itu akan memeberikan kesaksiannya pada waktu yang dibutuhkan. Kata-kata minkum berarti diantara kaum mukminin.
Secara ringkas, para ulama menyimpulkan beberapa faedah dan hukum dari kedua ayat ini, yang terpenting adalah [13]:
a)    Anjuran supaya berwasiat dan tidak meremahkannya baik di dalam perjalanan maupun ketika bermukim
b)   Mengadakan persaksian terhadapnya untuk menguatkan perkaranya dan harapan akan pelaksanaannya.
c)    Penjelasan bahwa pokok mengenai dua orang saksi atas wasiat itu adalah dua orang mukmin, yang keadilannya terpercaya
d)    Kesaksian dua orang bukan muslim adalah boleh menurut syara’. Sebab  maksud syar’i jika pelaksanaannya secara sempurna tidak mungkin, maka tidak boleh ditinggalkan sama sekali
e)    Syari’at mengenai pemilihan waktu-waktu tepat yang dapat menyentuh hati para saksi dan orang-orang yang bersumpah, agar mereka berlaku jujur dan benar di dalam melaksanakan kewajibannya.
f)    Menekan orang yang bersumpah dengan kata-kata sumpah yang keras, seperti mengatakan di dalam sumpah itu kata-kata yang dapat menghindarkannya dari dusta
g)   Yang menjadi pokok di dalam berita-berita dan kesaksian manusia adalah benar dan dapat diterima karena itu disyaratkan di dalam menyumpah dua orang saksi adanya kesangsian terhadap berita keduanya
h)   Disyari’atkan menyumpah para saksi, jika para hakim dan lawan bersengketa meragukan kesaksian mereka. Hal ini dipraktekkan oleh kebanyakan bangsa pada masa sekarang. Bahkan perundang-undangan manusia telah mewajibkannya, karena banyaknya kesaksian palsu.
i)     Disyari’atkan mengembalikan sumpah kepad aorang yang terbukti kehilangan haknya, melalui sumpah yang dengan sumpah itu orang yang bersumpah menjadi lawan sengketanya.
j)     Jika diperlukan turut campurnya sebagian ahli waris dalam perkara yang berkenan dengan harta pusaka, maka yang lebih berhak atas hal itu adalah orang yang paling dekat hubungnnya kepada orang yang meninggal.
C.                Asbabun Nuzul
Ada banyak riwayat yang dikemukakan oleh ahli asbabun nuzul tentang sebab turunnya ayat ini, walau berbeda-beda  tapi intinya sama[14]. Yaitu yang mengkisahkan pada suatu kali pergilah  Budail Maula Amar ibn Ash membawa barang dagangan ke Madinah. Di kota itu, ia berjumpa Tamim addary dan Adi, dua orang Nasrani yang tinggal di Mekkah, lalu mereka pun bersama-sama pergi ke Syam (Suriah).
Di tengah perjalanan Budail menderita sakit, lalu dia menulis surat wasiat dan dia masukkan ke dalam barang-barang dagangan miliknya. Kepada kawan-kawannya dia berwasiat supaya menyampaikan barang dagangan miliknya kepada keluarganya. Budail pun meninggal dalam perjalanan.
Sebelum barang diterima para ahli waris, Tamim dan Adi membuka ikatan barang-barang tersebut dan mengambil sebagiannya. Setelah itu barang dibungkus kembali dan kemudian diserahkan kepada keluarga Budail, yang tentu saja tidak utuh lagi.
Keluarga Budail terkejut ketika bungkusan dibuka jumlah barang tidak sesuai dengan isi surat wasiat, yang juga diletakkan dalam bungkusan tanpa diketahui kawan almarhum yang dititipi. Para ahli waris pun kepada mereka yang menyerahkan barang titipan tersebut. Tetapi mereka yang dititipi mengatakan itulah barang-barang yang mereka terima. Mereka mengaku tidak tahu barang dalam bungkusan berkurang. Keluarga Budail mengatakan jumlah barang tidak sesuai dengan isi surat wasiat. Untuk menyelesaikan hal itu, akhirnya mereka mengadu kepada Nabi. maka turunlah ayat ini “hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang diantara kalian menghadapi kematian, sedang dia kan berwasiat , maka hendaklah ( wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil diantara kalian , atau dua orang yang berlainan agama dengan kalian .... Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”. Kemudian Rasulullah SAW  menyuruh dua teman almarhum atau saksi tersebut bersumpah dengan nama Allah setelah sembayang ashar yaitu “ Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, kami tidak memegang selain dari ini dan kami tidak menyembunyikannya.”[15]
Kemudian mereka tinggal sebagaimana yang dikehendaki Allah untuk tinggal. Sesudah itu tampak pada mereka berdua ada sebuah bejana dari perak yang diukir dengan emas. Keluarganya berkata ”ini sebagian dari barangnya”. Mereka berdua berkata,” benar, tetapi kami telah membelinya dari dia, dan kami lupa menyebutkannya ketika bersumpah. Kami tidak suka mendustai diri kami sendiri”. Setelah mereka mengadukan perkara itu kepada Nabi SAW. “ turunlah ayat :  jika diketahui bahwa  kedua saksi itu berbuat dosa........”   maka nabi SAW memerintahkan dua orang laki-laki dan keluarga pemilik untuk bersumpah atas apa yang mereka berdua sembunyikan dan miliki.
Setelah kejadian ini, Tamim ad-Dari memeluk islam serta membaiatkan diri kepada Nabi. Ketika itulah dia merasa berdosa atas perbuatannya tesebut dan selanjutnya dia mengaku dengan terus terang telah mengambil bejana milik almarhum bersama kawannya.
Kemudian setelah mengakui perbuatannya, Tamim  menemui ahli waris badil beserta ‘Adi dan menyerahkan uang sebanyak lima ratus dirham dan sisanya masih sama temannya ( ‘Adi bin Bada’), kemudian berangkatlah ahli waris Badil dan ‘Adi menghadap Rasulullah SAW. Rasulullah meminta bukti-bukti tuduhan terhadap ‘Adi itu, tetapi mereka tidak dapat memenuhi permintaan Rasulullah, kemudian Rasulullah menyuruh mereka menyumpah ‘Adi dan ia pun bersumpah. Maka seperti telah dijelaskan di depan tadi Allah menurunkan QS .5 al-Maidah :106-108[16]. Pendapat  ini juga selaras dengan pendapat Abu Nadharlah Muhammad bin Ishak yang dikutip oleh Ibnu Katsir, Tirmidzi yang mengatakan bahwa kisah ni dituturkan secara mursal bukan dari seorang tabi’in , diantaranya Akramah Muhammad bin Said Sirih, dan Qatadah.[17] Mereka menuturkan bahwa sumpah dilakukan setelah ashar, demikian yang diriwayatkan oleh ibnu Jarir.Kisah itu pun diceritakan secara mursal oleh Mujahid,al-Hasan,dan Adk-dhahak.
D.                Munasabah Ayat
Dalam ayat terdahulu Allah Ta’ala telah mengingatkan, bahwa tempat kembali sesudah mati adalah Dia, dan bahwa pada hari kiamat kelak akan ada penghisaban dannpembalasan semua amal perbuatan .dan dalam ayat ini Allah memberikan petunjuk  kepada kita agar kita berwasiat sebelum meninggal,dan harus diadakan persaksian atas wasiat tersebut, sehingga tidak hilang dari orang yang berhak menerimanya[18]
Salah satu munasabah dari ayat ini adalah terdapat dalam surat al-baqarah ayat 180-182. Dalam ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai wasiat wajibah kepada kerabat dekat yang tidak mendapat harta warisan, dan dilarangnya washi untuk merubah isi wasiat serta diperbolehkan merubahnya jika perubahan itu membawa kepada kebaikan. Selain itu, munasabah dari ayat ini terdapat dalam surat al-maidah ayat 106-108. Dalam ayat ini menjelaskan tentang perlunya dua orang saksi ketika seseorang ingin berwasiat, saksi bisa dari orang muslim atau bukan muslim jika dalam berpergian, dan jika saksi itu berlaku curang terhadap sumpah yang mereka lakukan, maka bisa dari kerabatnya diambil sumpah.
Jadi munasabah atau korelasi dari kedua ayat ini adalah pada  surat Al-Baqaraoh ayat 180-182 telah dijelaskan masalah wasiat wajibah dan apabila seseorang memalsukan atau merubah wasiat dari sang mayit maka tidak alain adalah dosa baginya,dan bagi kita orang yang bertakwa hendaklah untuk mendamaikan dan memperjelas tentang wasiat itu dengan cara menyuruh sang penyampai wasit itu untuk bersumpah. Dan tentang bersumpah inilah yang terdapat dalam surat al-maidah ayat 106-108.

E.     Menguraikan Tafsir Bil Ma’tsur


F.     Analisis Kandungan Hukum Ayat
Al-Maidah 106:
$yJßgtRqÝ¡Î;øtrB…… .`ÏB Ï÷èt/ Ío4qn=¢Á9$# Èb$yJÅ¡ø)ãŠsù «!$$Î/ ÈbÎ) óOçGö6s?ö$# Ÿw ÎŽtIô±tR ¾ÏmÎ/ $YYyJrO öqs9ur tb%x. #sŒ 4n1öè%   Ÿwur ÞOçFõ3tR noy»pky­ «!$# !$¯RÎ) #]ŒÎ) z`ÏJ©9 tûüÏJÏOFy$# ÇÊÉÏÈ
Kutipan Ayat tersebut adalah bagian dari surat Al-Maidah. Surat Al-Maidah sendiri diberi nam yang bermacam-macam, yaitu, Al-Maidah yang berarti hidangan, yaitu hidangan yang diminta oleh Ahl Kitab (ayat 112-115), nama lainnya adalah surat Al-‘Uquud, artinya akad-akad perjanjian, karena di awal surat ini, terdapat perintah kepada kaum beriman agara memenuhi ketentuan aneka akad yang dilakukan, termasuk dalam akad-kad itu adalah Wasiat dan Persaksian, sebagaimana tertuang dalam Al-Maidah ayat 106-108, dalm surat ini terdapat berbagai jenis perjanjian, hubungan dengan orang ahl kitab ata orang non-islam lainnya.  
Dari ayat Al-Maidah ayat 106 di atas, dapat kita ambil kandungan hukumnya, yaitu:
1)      Menahan seseorang yang dituduh
2)      Bersumpah setelah shalat
Secara logika, setelah seseorang muslim melakukan sholat, yaitu setelah menghadap ke Yang Maha Kuasa, sehingga diharapkan dengan selesainya shalat beberapa saat sebelum persaksian, masih diliputi oleh rasa takut kepada Allah, dengan demikian diharapkan pula kesaksian yang disampaikan adalah kesaksian yang benar.
Lafadh (من بعد الصلاة), Ibnu Abbas menafsiri setelah sholat masing-masing agamanya. Ulama tafsir menafsirkan setelah shalat ashar, adapun alasannya adalah:
a)      karena para semua pemeluk agama sangat memuliakan waktu ashar itu, menyebut nam tuhan mereka pada waktu itu, menjauhi kebohongan dan sumpah palsu.  Dan ahli kitab beribadah pada saat terbit dan terbenamnya matahari.
b)      Hadits shahih Nabi, diriwayatkan bahwasannya Nabi menyumpah Adi dan Tamim setelah sholat ashar di atas minbar, Nabi pun bersabda: “Barangsiapa bersumpah palsu setelah shalat ashar, maka Allah akan melemparnya dalam keadaan marah pada orang itu.”  
c)      karena merupakan kebiasaan yang berlaku waktu itu, karena waktu itu sebagian besar orang telah menyelesaikan berbagai macam pekerjaannya, oleh karena itu waktu ini biasanya dipergunakan oleh Hakim untuk memutuskan berbagai persengketaan. .
3)      Kekuatan Sumpah
Al-Qurthubi berkata: ayat ini merupakan pokok pembahasan tentang kesakralan dalam bersumpah (baik itu bagi tertuduh maupun saksi), dalam hal ini ada empat macam, di antaranya[19]:
a)      Waktu, seperti (أشهر الحرم) Bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang, Setelah Ashar, dsb.
b)      Tempat, seperti di dalam masjid atau diatas mimbar, sedangkan Abu Hanifah berbeda pendapat, dia mengatakan bahwa tempat tidak menjadi masalah.
c)      Keadaan / Posisi Orangnya, yaitu harus menghadap kiblat dan dalam posisi duduk / berdiri. Adapun ibnu arabi berkata tidaka ada bedanya antara persaksian seseorang ketika berdiri atau duduk.
d)     Penggunaan Lafadh, hendaknya seseorang yang kamu ragu-ragu kepadanya (ان ارتبتم) untuk dimintai sumpahnya, adapun jika kamu tidak ragu-ragu kepadanya, maka tidak perlu menggunakan sumpah, karena tujuan sumpah adalah untuk memperkuat persaksian. sebagian ulama berpendapat bahwa bersumpah hendaknya dengan nama Allah (فيقسمان بالله). Rasulullah bersabda, barangsiapa bersumpah hendaknya bersumpah dengan Menyebut Nama Allah, (atau jika tidak mau) maka lebih baik diam saja (أو ليسمت)”. Mengenai lafadhnya ada yang mengatakan cukup dengan huruf qosam, (ب, ت, و) , Imam Malik dan imam Abu Dawud berpendapat bahwa hendaknya bersumpah dengan menyebut tiada tuhan selain DIA, kebenaran yang ada padaku adalah milik-Nya, ini adalah sumpah untuk orang yang menuduh.    
Lafal (ان ترك خيرا الوصية) lafal ini mengandung pengertian bahwa ketika seseorang dalam keadaan mendekati kematian, maka hendaklah dia meninggalkan wasiat. Lafadh (ان) berarti bahwa kondisi seseorang yang meninggal dalam keadaan mempunyai harta banyak itu jarang.

Hukum WAsiat[20]
  1. Wajib
Ketika wasiat itu ditujukan untuk memenuhi hak-hak Allah yang dilalaikan oleh pewasiat, seperti: zakat yang belum dibayar, kafaroh, nadzar, fidyah, puasa, haji, dll.
  1. Sunnah
Untuk orang-orang yang tidak menerima Warisan, atau untuk motif sosial dengan tujuan taqorrub (mendekat kepada Allah), contoh: Wasiat bagi fakir miskin, anak yatim, Lembaga Sosial, dll.
  1. Haram
Wasiat yang diperuntukkan untuk maksiat, misal untuk mendirikan tempat perjudian, pencurian, pelacuran, dsb.
  1. Makruh
Berwasiat untuk keperluan penyembuhan, dengan wasiat itu orang yang diberi wasiat akan sembuh dari penyakit hatinya / maksiatnya, misal: wasiat pada anak yang ketagihan narkotika, untuk penyembuhannya, kemudian anak itu sembuh dari maksiatnya.
  1. Mubah
Wasiat kepada kaum kerabat atau tetangga yang penghidupannya berkecukupan.
Sedangkan wasiat yang diberikan kepada Ahli Waris, menurut Hazairin, hukumnya boleh dengan alasan yang mendesak karena perlu biaya pengobatan yang besar, pendidikan anak.
Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: “Tidak ada seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang pantas untuk dihasilkan sampai 2 malam, melainkan hendaknya wasiat tertulis di sisi kepalanya.” 

HUKUM WASIAT
Wasiat wajib atas orang yang memiliki harta yang harus diwasiatkan. Allah swt berfirman:
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda), maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah: 180).

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang muslim yang memiliki harta yang akan diwasiatkan tidak berhak tidur dua malam, melainkan wasiatnya sudah tertulis di sisinya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V: 355 no: 2738, Muslim III: 1249 no: 1627, ’Aunul Ma’bud VIII: 63 no: 2845, Tirmidzi II: 224 no: 981, Ibnu Majah II: 901 no: 2699 dan Nasa’i VI: 238).
KAPAN WASIAT MENJADI HAK MILIK PENUH
Wasiat tidak akan menjadi hak milik penuh bagi si penerima wasiat, kecuali setelah meninggalnya si pemberi wasiat dan terlunasinya seluruh hutangnya. Jadi, manakala seluruh harta peninggalan habis untuk dibayarkan pada hutang-hutangnya, maka sang penerima wasiat tidak mendapatkan bagian apa-apa:
Dari Ali ra, ia berkata: “Rasulullah saw biasa membayar hutang sebelum (dipenuhinya) wasiat; dan kalian (sering) membaca ayat tentang wasiat, MINBA’DI WASHIYYATIN YUUSHAA BIHAA AU DAIN (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya).” (QS an-Nisaa’: 11) (Hasan: Shahih Ibnu Majah 2195, Irwa-ul Ghalil 1667, Ibnu Majah II: 906 no: 2715, Tirmidzi III: 294 no: 2205).


G.    Penjelasan hikmah hukum yang terdapat pada ayat
Adapun beberapa hikmah wasiat adalah:
  1. Untuk memelihara harta, dari kekuasaan orang-orang yang dhalim dan tamak.
  2. Praktek ibadah untuk menunaikan amanat seseorang.


DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’I, M. Nasib ,  1989Taisirul  al-Aliyyul Qodir li Ikhtishori Tafsir Ibnu Katsir”. Jil II. Jakarta: Gema Insani Press.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, 2002, al -Bayan Tafsir Penjelas al-Quranul Karim jil I, Semarang: Pustaka Rizki Putra
Az-Zahili,Wahib. 2005 “ Tafsir Al-Munir” . Jil I. Juz I-II. Ed VIII..Daarul Fikri.
----------, 2005”Tafsir Al-Munir”  jil 4. Juz -8. Ed VIII. Daarul Fikr
Bahreisy, Salim & Said Bahreisy, 1986 “Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir”. Jil III. PT Bina Ilmu: Surabaya
Mahaly,  Imam Jalaludin al dan Imam Jalaludin as-Suyuthi, 1990 yang diterjemahkan oleh Mahyudin Syaf dkk. Terjemah Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul juz 2 , cet I Bandung : Sinar Baru,
Mustafa, Ahmad Al-Maraghi, 1992.Terjemah Tafsir Al-Maraghi” juz 7. CV. Toha Putra : Semarang
------------, 1992 “Terjemah Tafsir Al-Maraghi”  juz 2.. CV. Toha Putra : Semarang
Shaleh, Dahlan Ahmad, dkk. 2009 “ Asbabul Nuzul ( Latar Belakang Histori Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an)”. Ed II. CV Penerbit Diponegoro: Bandung
Shihab,  M.Quraish , 2002 Tafsir Al-Misbah ( Pesan,Kesan, Dan Keserasina Al-Qur’an ).  Jakarta : Lentera
Qutub, Sayyid, 2002. “Fi Zhilalil Qur’an” . Darusy-Syuruq: Beirut
http://www.fikr.com



[1]Yakni washiyat wajibah yang harus dilakukan oleh seseorang yang harus daintara kerabatnya, ada yang tidak dapat menerima pusaka. Lihat Prof. TM. Hasbi AS-Shiddqey, Tafsir Bayan  Tafsir Penjelas al-Quranul Karim jil I, (Semarang: Pustaka Rizki Putra 2002)hal 238
[2] Ma'ruf ialah adil dan baik. wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mewaris.
[3]Ayat ini dihadapkan kepada washi (orang yang bertindak sebagai pengurus wasiat) dan saksi supaya jangan mengubah wasiat dan kepada orang yang berwasiat dari antara kerabatnya jangan berwashiat untuk orang lain dan memebiarkan keluarga sendiri dalam kepapaan. Wasiat ini untuk kerabat-kerabat yang tidak dapat menerima pusaka lantaran suatu penghalang. Lihat Ibid TM. As-Siddqiey, hal 28
[4] Mendamaikan ialah menyuruh orang yang Berwasiat Berlaku adil dalam Mewasiatkan sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syara'.

[5] Ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan dijadikan saksi.
[6] Maksudnya: melakukan kecurangan dalam persaksiannya, dan hal ini diketahui setelah ia melakukan sumpah
[7]Maksud sumpah itu dikembalikan, ialah saksi-saksi yang berlainan agama itu ditolak dengan bersumpahnya saksi-saksi yang terdiri dari karib kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat Balasan di dunia dan akhirat, karena melakukan sumpah palsu.

[8] [8] Ahmad Mustofa Al-Maraghi  Terjemaha Tafsir Al-Maraghi, 1992.CV. Toha Putra : Semarang. 78
[9]Imam Jalaludin al Mahaly dan Imam Jalaludin as-Suyuthi yang diterjemahkan oleh Mahyudin Syaf dkk. Terjemah Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul juz 2 , cet I (Bandung : Sinar Baru, 1990) hal  94
[10]Ibid, hal 95
[11]Ibid 96
[12] Op.cit. Ahmad Mustofa Al-Maraghi, hal 77. Lihat juga di Az-zahili,Wahib “ Tafsir Al-Munir” . Jil I. (Daarul Fikri: 2005)Juz I-II. Ed VIII.
[13] Ahmad Mustofa Al-Maraghi” Terjemah Tafsir Al-Maraghi”1992.CV. Toha Putra : Semarang. H 77-78
[14] M.Quraish Shihab “ Tafsir Al-Misbah ( Pesan,Kesan, Dan Keserasina Al-Qur’an )”. 2002. Jakarta : Lentera Hati. Lih 229 
[15]Al- Maidah : 106-108
[16] KH .Q. Saleh , H.A.A Dahlan. Dkk.” Asbabul Nuzul (latar belakang historis turnnya ayat-ayat Al-Qur’an )” ed II. 2009. CV Penerbit Diponegoro: Bandung. Lih hal 210-212
[17] M. Nasib Ar-Rifa’I “ Taisirul  al-Aliyyul Qodir li Ikhtishori Tafsir Ibnu Katsir”. Jil II. 1989. Jakarta: Gema Insani Press.lih hal 173
[18] Ahmad Mustofa Al-Maraghi” terjemaha tafsir al-maraghi”1992.CV. Toha Putra : Semarang. H 77-78. Lih juga “ Dr wahab adz-dzahili. Tafsir al-munir. 2003  M / 1426 H. Lih juga // http://www.fikr.com 
[19] Lihat M. Abdul Athi Buhairi. Nidaatur rohman liahlil iman. (diterjemahkan oleh Abdurrahman Kasdi dan Umma Farida). 2000. Jakarta: Sinar Grafika. Hal. 547-554.
[20] Lihat M. Idris Ramulyo. Perbandingan Pelaksanaan Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Islam Dengan kewarisan menurut KUHPer (BW). Hal. 135-136.



No comments:

Post a Comment